Pemerintah menjalankan tiga strategi BIAN untuk mengejar cakupan imunisasi

Jakarta (radonsanering-systemet.com) – Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan dr. Prima Yosephine, MKM mengatakan pemerintah akan menerapkan tiga strategi di Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada Mei mendatang untuk meningkatkan cakupan imunisasi.

Salah satu strategi tersebut adalah imunisasi catch-up yang mencakup vaksin polio, sejenis vaksin polio vaksin polio oral (OPV) atau vaksin tetes dan vaksin polio inaktif (IPV) atau vaksin suntik, dengan tujuan melengkapi status imunisasi balita yang belum atau terlambat diimunisasi sesuai jadwal.

Selain itu, strategi dalam BIAN juga mencakup imunisasi tambahan campak, rubella, yang bertujuan untuk memberikan dosis tambahan tanpa memandang status imunisasi, serta penerapan perluasan dan pengenalan vaksin baru yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Prima mengatakan, pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal tahun 2020 berdampak signifikan terhadap penurunan cakupan imunisasi.

“Pandemi COVID-19 memang mempengaruhi pelaksanaan program kesehatan, termasuk imunisasi rutin, sehingga diperlukan dukungan dari banyak pihak untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan imunisasi rutin,” kata Prima pada konferensi pers Pekan Imunisasi Dunia di Jakarta, Senin.

Prima mengatakan, berdasarkan data yang dikumpulkannya, terjadi penurunan cakupan imunisasi di tingkat global, dari 86 persen pada 2019 menjadi 83 persen pada 2020.

Sementara di Indonesia sendiri, penurunan cakupan imunisasi untuk semua jenis antigen terjadi pada periode 2020 dan 2021, dibandingkan capaian cakupan imunisasi pada tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data laporan cakupan imunisasi rutin, cakupan imunisasi dasar lengkap pada tahun 2021 mencapai 84,22 persen dari target yang ditetapkan sebesar 93,6 persen. Pada periode 2019 hingga 2021, Prima menyebutkan sebanyak 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Selain itu, Prima juga menyampaikan bahwa cakupan imunisasi campak rubella untuk anak di bawah usia dua tahun (baduta) juga mengalami penurunan pada periode 2019 hingga 2021.

Baca Juga :  Resep Es Campur Panacotta, minuman segar untuk berbuka puasa

“Kondisi ini tentunya akan menurunkan tingkat imunitas masyarakat dan menciptakan enclave yang berpotensi menjadi sumber kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), bahkan dapat menyebabkan KLB PD3I,” kata Prima.

Menurutnya, Pekan Imunisasi Dunia 2022 yang diperingati setiap minggu terakhir bulan April merupakan momentum yang tepat dan strategis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi.

Prima mengatakan, tantangan program imunisasi di Indonesia bukan hanya keberadaan enclave yang berpotensi menimbulkan wabah PD3I, tetapi juga sejumlah tantangan lainnya.

“Komitmen dan dukungan operasional program yang belum optimal dari pemerintah daerah, masih adanya resistensi imunisasi, manajemen penyimpanan vaksin, dan sumber daya pelaksana imunisasi yang masih perlu ditingkatkan. Ini juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan program imunisasi. ,” dia berkata.

Baca juga: UNICEF dan Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan bekerja sama dengan misionaris untuk mensukseskan BIAN

Baca juga: Orang Tua Diminta Kejar Imunisasi Anak Tertinggal

Baca juga: Pakar: Imunisasi rubella rendah bisa tingkatkan risiko bayi lahir tuli

Reporter: Rizka Khaerunnisa
Redaktur: Alviansyah Pasaribu
HAK CIPTA © radonsanering-systemet.com 2022